Explore

Desa Terapung, Torosiaje

Di Torosiaje, ide-ide menjadi relatif. Bagaimana niat baik diwujudkan? Bagaimana laut diperlakukan? dan bagaimana masa depan ditentukan? Di Torosiaje, di kampung yang dibangun diatas laut itu, kita menjadi gagap, bahwa nilai-nilai ternyata sering tak sama.

Torosiaje adalah kampung yang damai. Terletak di teluk tomini yang kaya ikan, Torosiaje menjadi bagian dari Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Torosiaje adalah salah satu dari beberapa perkampungan Suku Bajo yang tersebar di berbagai lautan di Indonesia.

Sebagaimana Orang-orang suku bajo lainnya, para penduduk kampung Torosiaje juga sangat mencintai lautan. Karena alasan itu pula mereka mebangun rumah dan kampung di atas laut, bukan di daratan atau di pantai. Bagi suku Bajo, rumah dan perahu pada hakikatnya sama, yaitu tempat tinggal dan tempat beraktifitas, dunia mereka sepenuhnya.

Saat ini kampung Torosiaje dihuni sekitar 1500 jiwa yang terdiri dari 300an kepala keluarga. Walaupun mayoritas, namun tidak semua penduduk kampung Torosiaje adalah suku Bajo. Berbagai suku lain seperti suku Jawa, Buton, Gorontalo dan lain-lain juga tinggal dan berbaur dengan warga Bajo, yang menjadi kesamaan adalah kecintaan mereka pada lautan.

Dari sekitar 300-an kepala keluarga yang tinggal di Torosiaje, ada 10 kepala keluarga yang memilih tinggal di perahu secara nomaden, melakukan semua aktifitas sehari-hari mulai memasak, tidur mencari ikan dan lain-lain semua dilakukan diatas perahu. Walaupun nomaden namun mereka masih tercatat sebagai warga kampung Torosiaje, dan mereka masih akan pulang di hari-hari besar kampung dan hari-hari penting nasional seperti pemilu. Namun kata “pulang” sebenarnya juga absurd, karena laut adalah rumah bagi mereka, jadi kemanapun mereka menjalankan perahu pada hakikatnya mereka sedang pulang.

Sekitar 10 kepala keluarga yang tinggal nomaden ini menariknya tidak tinggal di kapal berukuran besar, mereka benar-benar tinggal di perahu, bukan kapal. Ukuran perahu mereka terhitung kecil. Lebar perahu sekitar 1 meter, sementara panjang perahu sekitar 7 meter, dihuni oleh satu keluarga penuh. Tinggal di tempat sekecil itu menjadikan kehidupan mereka menjadi begitu filosofis: memakai seperlunya, makan seperlunya, bergerak seperlunya, namun hidup dengan sepenuhnya.

Warga Torosiaje adalah para pemeluk agama Islam, 100% warganya beragama Islam, pada hari jumat pun mereka bahkan tidak melaut. Hari jumat adalah hari untuk beribadah, bukan untuk mencari nafkah. Kalaupun ada yang terpaksa melaut hanya sekitar kampung saja, tidak sampai mencari ikan sampai jauh ketengah laut.

Walaupun beragama Islam, namun warga Torosiaje juga masih melestarikan berbagai adat budaya dan kepercayaan yang diturunkan dari leluhur. Jika warga Torosiaje pulang dari melaut, diujung kampung mereka akan melihat sebuah bendera putih berkibar-kibar tertiup angin. Nama bendera tersebut adalah Berna Bendera Bate, terletak tepat diujung kampung, bendera berwarna putih ini dipercaya sebagai penolak bala. Digantikan tiap kali bendera mulai pudar dan sobek.

Selengkapnya : BlogFajar